MGR 1-3

Merry Go Round 

Chapter 1 : It is certainly not a Flying Spaghetti

Makhluk itu tak seperti makhluk apapun yang pernah Jo lihat sebelumnya selama ini. Tapi jika dipaksakan, makhluk itu sedikit banyak mirip dengan ubur-ubur… atau bola daging berlendir dengan beberapa tentakel. Makhluk itu juga memiliki struktur mirip mata dan mulut yang tersebar secara tak simetris di sekujur tubuhnya. Seolah tak terpengaruh Gravitasi, makhluk itu melayang bebas di udara hampir seperti berenang dalam air.

Jujur saja, dilihat dari sisi manapun makhluk itu sama sekali tidak ada manisnya.

Tapi begitulah. Pagi itu, tiba-tiba saja makhluk itu sudah ada di kamar Jo, melayang-layang di sekitar tempat tidur Jo, tanpa suara.

Reaksi pertama Jo ketika melihatnya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Saat itu ia bahkan tidak yakin apakah ia sudah bangun atau masih bermimpi. Reaksi selanjutnya lebih kepada gabungan rasa heran, kagum, dan jijik.

Jo menatap makhluk itu.

Makhluk itu (sepertinya) balas menatapnya.

Jo mengulurkan tangannya.

Makhluk itu mengulurkan tentakelnya.

Ini jelas konyol. Jo jadi teringat film lama yang pernah ia tonton dulu. Tapi kini setidaknya ia bisa mengerti bagaimana perasaan tokoh dalam film tersebut.

No Pain No Gain

No Risk No Fun

Namun sesaat sebelum terjadi CE3k pintu kamar Jo terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tegap, nyaris gempal, masuk sambil berkacak pinggang.

“Lamban! Kau pikir sudah jam berapa sekarang?”

Jo melirik jam dinding di kamarnya. orang itu benar, sekarang sudah hampir pukul tujuh, ia bisa terlambat masuk sekolah.

“Ah, tunggu sebentar Kak,” seru Jo saat sang lelaki, sambil menggerutu, berbalik ke luar.

“Sheeeh, Ada apa lagi?”

“Menurut kakak apa ini?” tanya Jo sambil menunjuk sang makhluk yang kini melayang di sampingnya.

Sang kakak memandang Jo dengan tatapan belas kasihan, menghampirinya, lalu menjitaknya sekuat tenaga.

“Kuharap itu berhasil membangunkanmu” gerutu sang kakak sambil membanting pintu sementara Jo meringis kesakitan memegangi kepalanya.

Setelah makan pagi bersama kakak dan kedua orang tuanya, barulah Jo benar-benar yakin bahwa cuma dia seorang yang dapat melihat makhluk tersebut, yang tampaknya memilih, bagai satelit, untuk terus menerus melayang di sekitar dirinya.

Entah ia mesti gembira atau tidak dengan kenyataan itu. Selama beberapa saat, Jo hampir memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke psikiater terdekat.

***

***

Chapter 2 : Observation

Dua minggu berlalu.

Setelah sempat mengalami insomnia, Jo yang pada mulanya tak nyaman dengan keberadaan makhluk itu kini mulai sedikit terbiasa.

Setidaknya dengan pengamatan singkat selama beberapa hari, tampaknya makhluk itu sama sekali tidak (belum) membahayakannya.

Makhluk itu tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan yang paling penting tidak buang kotoran. Malah kelihatannya satu-satunya hal yang dilakukan oleh makhluk itu sepanjang hari adalah melayang-layang di sekitar dirinya.

Benar-benar aneh.

Di rumah, di sekolah, dalam kendaraan, di jalan, di kamar mandi, makhluk itu selalu berada di dekatnya, persis seperti sesosok penguntit, atau mata-mata. Dan itu semua dilakukan makhluk itu nyaris tanpa bersusah payah. Mungkin ada kaitannya dengan hukum kelembaman, atau momentum, atau relativitas, tapi yang jelas makhluk itu dapat menembus tembok dan hampir material apapun, walau tampaknya sebisa mungkin ia menghindari bersentuhan dengan manusia atau makhluk hidup lainnya.

Ah fakta lain.

Jika sepertinya tak ada manusia lain selain dirinya yang dapat melihat makhluk itu, Jo dengan segera menyadari bahwa hal itu tak berlaku untuk makhluk hidup lainnya. Yah setidaknya hal itu membuat Jo sedikit lega bahwa ia bukanlah satu-satunya yang mengetahui keberadaan makhluk itu.

Beberapa kali juga, Jo sempat berpikir untuk menyentuh makhluk itu sekedar memastikan makhluk itu benar-benar nyata, tapi bagaimanapun lendir di sekujur tubuh makhluk itu cukup menjijikkan. Belum lagi kalau seandainya lendir-lendir itu menimbulkan alergi.

Tidak. Jo masih belum kehilangan akal sehatnya.

Beberapa kali juga, sempat terlintas di benak Jo untuk melakukan percobaan lain, seperti memukul makhluk itu, atau menyemprotnya dengan obat anti serangga, atau mencolok salah satu mata sang makhluk dengan sedotan. Jo juga bertanya-tanya apa makhluk itu tahan api, dengan lendir di sekujur tubuhnya. Atau bagaimana dengan aliran listrik?

Tidak. Jo masih belum kehilangan akal sehatnya.

Makhluk yang dapat membuat seekor anjing herder mendengking ketakutan, makhluk yang dapat membuat burung-burung diam membisu, makhluk yang dapat membuat lalat-lalat yang mengerumuni tempat sampah terbang menjauh, makhluk yang dapat membuat kecoa-kecoa tak lagi menghuni kolong tempat tidurnya, makhluk yang dapat membuat nyamuk-nyamuk tak lagi menggigitnya di malam hari.

Makhluk semacam itu, meski selama ini kelihatannya tidak membahayakan, jelas-jelas berbahaya.

Dan Jo sama sekali tidak berminat memancing kemarahannya.

***

***

Chapter 3 : Finally A Name

Hari baru.

Semangat baru.

Jika ada yang spesial bagi Jo hari ini adalah hari ini tepat tiga puluh satu hari sejak kemunculan makhluk itu di hadapannya. Dan ia benar-benar sudah terbiasa dengan keberadaan sang makhluk di sekitarnya. Makhluk itu kini sudah hampir seperti peliharaan baginya.

Sayang sekali sampai saat ini pun Jo tetap tak bisa menganggap makhluk itu manis, atau elegan, atau keren.

Tidak. Tidak sama sekali.

Tapi dibandingkan hewan peliharaan lain… yah setidaknya makhluk itu sama sekali tak merepotkan. (Ingat ia tak pernah buang kotoran?)

Dengan beberapa percobaan, Jo membetulkan beberapa kesimpulan yang salah dari pengamatannya sebelumnya.

Yang paling penting, makhluk itu memang tampaknya tak membutuhkan makanan atau minuman, tapi bukan berarti ia tidak dapat melakukannya.

Faktanya ia bukan saja dapat sekedar makan sesuatu, melainkan juga OMNIVORA sejati.

Daging, Sayuran, Kertas, Kaleng, Plastik, makhluk itu dengan tenang menghabiskan apapun yang dilemparkan Jo padanya.

Makhluk itu juga sangat terampil menggunakan tentakelnya, yang diluar dugaan cukup menyeramkan. Bagaimana tidak, dengan tentakel-tentakelnya yang tidak konstan jumlahnya, makhluk itu bisa dengan mudah mengiris potongan roda sepeda menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga cukup masuk ke dalam mulut-mulutnya.

Namun tak peduli berapa banyak pun Jo memberinya makan, tampaknya makhluk itu tak mengalami perubahan ukuran yang signifikan.

Jo bertanya-tanya apakah ia mesti mengkonsultasikan hal itu pada dokter hewan terdekat.

Mungkin tidak. Jika dipikir-pikir lagi, akan cukup merepotkan juga jika makhluk itu bertambah besar dari ukurannya saat ini.

Ah dan yang lebih membuat hari ini spesial adalah karena Jo akhirnya memutuskan memberi nama untuk makhluk itu.

Pekerjaan yang sulit dan melelahkan. Namun setelah membuka-buka buku dan internet, Jo akhirnya memilih menamai Makhluk itu dengan nama:

DEADUS

Bukan nama terbaik yang bisa diberikan untuk makhluk yang tidak tertera dalam Taxonomic Database, tapi seperti kata orang dulu, apalah arti sebuah nama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.