Rapid Serial Railway
CoDE: Chimera
Chapter: Rapid Serial Railway Bahkan di dalam kontainernya, lelaki itu masih bisa mendengar dengung suara kereta yang ditumpanginya. Di luar, dari jendela di samping tempat duduknya, bergantian terlihat, bayang-bayang gedung, menara, kota, reruntuhan dan ratusan bentuk lain yang berkelebatan.
Bersandar pada lengannya, lelaki itu baru saja akan memejamkan kedua matanya ketika seseorang mengetuk pintu kontainernya.
“Tuan Elvair?”
“Ah silakan masuk!”
Pintu kontainer itu terbuka secara otomatis. Sesosok wanita melangkah masuk dengan dua buah nampan di kedua tangannya.
Sesaat wanita itu tampak kebingungan. Ia lalu tersenyum dan meletakkan nampan yang dibawanya di sebuah tatakan yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Elvair.
“Mohon maafkan kami… tapi sensor kami mengatakan anda bersama seseorang di dalam sini.”
“Tidak apa-apa… Ah tolong letakkan saja keduanya disini.”
Wanita itu tersenyum lalu mohon diri, dan sebelum pintu kontainer itu kembali tertutup ia pun membungkukkan badannya sedikit.
“Terima kasih telah menggunakan jasa layanan kami, semoga perjalanan anda menyenangkan.”
“Tunggu sebentar, apa anda manusia?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya. Pintu kontainer itu kembali tertutup.
Elvair membuka nampan dihadapannya. Di sana tampak sebentuk balok berukuran cukup besar berwarna kemerahan. Asap yang mengepul dari balok itu membwa aroma daging pada indra penciumannya.
“Sayang sekali… padahal dia cukup manis… Ouch! Hei hentikan!Jangan pukuli aku.”
***
Beberapa ratus jam kemudian. Kereta itu masih terus melaju. Setiap beberapa puluh jam sekali, wanita itu mengantarkan balok-balok kemerahan pada Elvair dan setiap kali itu pula ia memohon maaf karena kesalahan sensor pemindai mereka.
“Jika anda tidak keberatan bisakah kita berbincang sejenak? Uh sudah cukup lama sejak aku berpergian sejauh ini… uh sepertinya aku mulai jenuh.”
“Tidak masalah. Kebetulan anda satu-satunya penumpang kali ini.”
Sang wanita tersenyum lalu duduk di bangku di hadapan Elvair.
“Anda punya.. uh nama kan? Atau mungkin nomor seri?”
“AD.687.45A, itu nomor seriku. Tapi pihak manajemen memutuskan bahwa kami sebagai pegawai boleh memiliki nama.”
“Dan nama anda?”
“Adel.”
Sekejap kemudian mereka berdua terlibat dalam percakapan singkat, walaupun terlihat jelas bahwa wanita itu hanya sebatas menjawab pertanyaan Elvair. Tak lama, percakapan itu terhenti.
“Maafkan aku!”
“Eh kenapa?”
“Pihak manajemen memutuskan bahwa kami sedapat mungkin bersikap selayaknya manusia… Hal itu cukup sulit kurasa.”
Elvair terdiam sesaat.
“Ini salahku kurasa… kembalilah pada tugsamu.”
Adel membungkukkan badannya lalu berdiri dan meninggalkan Elvair seorang diri di sana.
“Kau sudah bangun? Hmm? Tidak… aku hanya berpikir.”
***
Terdengar suara benturan keras diikuti goncangan yang hampir menyebabkan Elvair terjatuh dari tempat duduknya.
Pintu kontainer terbuka namun kali ini Adel tidak melangkah masuk.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Ada beberapa masalah eksternal yang akan kami segera selesaikan. Kami harapkan anda tetap tenang dan menikmati perjalanan.”
“Siva kah? Jika kau tidak keberatan bolehkah kami membantu?”
Adel hanya tersenyum dan pintu kontainer itu kembali tertutup.
***
Deru mesin kereta sudah tidak terdengar lagi.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini…”
Elvair berjongkok di hadapan tubuh Adel yang kini hanya tinggal bagian pinggang keatas, dengan sebelah tangan dan kepala yang sebagiannya sudah hancur. Di belakangnya, kereta yang tadi ia tumpangi terguling di samping rel yang sesekali dialiri kilatan listrik kebiruan.
“…Kereta pengganti akan tiba dalam 475 jam lagi, semoga perjalanan anda menyenangkan…”
“Ya, terima kasih Adel.”
Adel kembali tersenyum.
“Kita akan bertemu lagi bukan? Mungkin ada kesalahan dalam sistemku, tapi aku merasa ‘gembira’ bisa melayani anda selama perjalanan ini…”
Tak ada lagi yang keluar dari mulut Adel. Elvair tersenyum getir sambil menggaruk kepalanya. Dari dalam ransel yang dibawanya, bagaikan peri dalam dongeng, sesosok gadis mungil bersayap keluar sambil menguap.
“Akhirnya kau bangun huh? Sayang sekali tapi Siva-siva itu sudah dibereskan… uhh walaupun sebagai gantinya kita harus menunggu 475 jam sebelum kereta pengganti tiba.”
Peri kecil itu tampak sama sekali tak peduli dan kemudian duduk diatas kepala Elvair. Elvair memandang sekeliling hanya untuk mendapati dirinya berada di tengah semacam dataran yang amat luas.
“Tujuan kita tak terlalu jauh kurasa… Huh, ayolah! Kita berjalan kaki saja. Jika kita beruntung kita bisa mendapatkan makanan untukmu!”
Elvair menenteng ranselnya lalu mulai berjalan.
“Pokoknya aku akan minta upah tambahan! Dan tolong berhentilah duduk di atas kepalaku… Ouch! Tidak! Aku tidak bilang badanmu berat! Hei, hei jangan menarik-narik rambutku! “
***
To Next …