Mimic

CoDE: Debris

Chapter: MimicĀ Malam telah tiba.

Namun tidak dengan kesunyian. Diantara ribuan cahaya gemerlapan, raungan ratusan sirine terdengar memecah langit.

Di suatu gang, tampak sesosok makhluk berjalan, setengah berlari, terseok-seok.

Drap-Drap-Drap

Setiap kali suara sirine meninggi, makhluk tersebut mempercepat langkahnya.

Sesekali ia menoleh kebelakang, seakan-akan ia khawatir, kalau-kalau pemilik sirine tersebut telah menemukannya.

Ia tak tahu mengapa ia berlari. Ia tak tahu mengapa ia ‘khawatir’. Saat ini entah darimana terdengar berulang-ulang sebuah suara, lirih namun tegas, “LARILAH… LARILAH…” dan makhluk itu tahu, ia harus menuruti suara tersebut.

Semakin lama langkah-langkahnya semakin tegas dan entah sejak kapan ia telah berlari dengan cukup cepat.

Namun tak peduli seberapa cepat ia berlari, raungan sirine tersebut masih terus saja terdengar, juga suara yang memaksanya untuk terus berlari.

Malam makin larut.

Setelah entah berapa lama ia berlari, makhluk tersebut pun akhirnya sampai di sebuah pelabuhan.
Di bawah sinar lampu, untuk pertama kalinya sosoknya terlihat jelas.

Dan sosok tersebut sama sekali tampak tak seperti manusia. Seperti seekor laba-laba raksasa, makhluk bertungkai empat tersebut merayap mencoba mencari perlindungan.

Di ujung masing-masing tungkai-tungkai tersebut, tampak empat atau lima buah jari menyerupai tangan seekor primata. Tubuhnya mirip tubuh seekor sapi, sementara leher dan kepalanya mirip, jika tak bisa dibilang menyerupai leher dan kepala manusia, lengkap dengan dua buah mata dan sebentuk mulut diwajahnya.

Di salah satu tungkai dan beberapa bagian tubuh makhluk tersebut terlihat bekas-bekas luka yang tampaknya sebagian besar disebabkan oleh senjata api.

Dan di sinilah ia sekarang, di dalam sebuah gudang gelap, terkurung tanpa jalan keluar.

Sementara itu raungan sirine terus meninggi, hingga suatu saat makhluk tersebut sadar, ia telah terkepung.

Di antara kebisingan, makhluk tersebut bisa mendengar samar-samar suara percakapan, juga suara puluhan senjata disiapkan.

Takut…

Takut…

Takut…

Makhluk tersebut tahu bahwa ia kini ketakutan. Tapi karena apa?

Saat itu, dari atas tumpukan kotak-kotak besi raksasa, tanpa makhluk tersebut sadari, sesosok gadis dengan rambut panjangnya yang keemasan tampak sedang mengawasi sang makhluk yang terlihat gelisah.

Mengenakan pakaian kelabu yang tampak sederhana, sebentuk senyuman tampak di wajah sang gadis.

Sebuah senyuman yang menyiratkan kesedihan dan belas kasihan.

“Makhluk malang…” gumam sang gadis tanpa melepaskan pandangannya dari sang makhluk, “Kau ketakutan tanpa tahu apa sebabnya…”

Makhluk tersebut kini berusaha menyembunyikan tubuhnya di sela-sela tumpukan kotak besi raksasa yang memenuhi gudang tersebut.

“Tapi aku tahu apa sebabnya…” sang gadis dengan tenang melompat dari satu puncak tumpukan ke puncak yang lain. Gerakannya sangat lembut seakan-akan gravitasi bukanlah sesuatu yang mengekangnya.

Makhluk tersebut masih terus berusaha bersembunyi.

“Adalah suatu hal yang normal bagi ‘mereka yang hidup’ untuk mempertahankan kehidupannya…”

Di bawah sinar bulan, bagaikan seorang dewi dari legenda-legenda di masa lalu, Gadis tersebut berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Matanya terpejam seakan-akan ia sedang berdoa.

Hingga tiba-tiba ia membuka matanya, “Tapi kau hanyalah sebuah boneka yang berpura-pura hidup.”

“Dan ketika ‘Sang Boneka’ mengacungkan pedang pada ‘Sang Tuan’, saat itu pulalah pertunjukan harus diakhiri.”

***

Malam hampir berakhir.

Sosok-sosok berseragam yang sejak beberapa saat yang lalu mengepung gudang, perlahan mulai bergerak.

Mereka bergerak dengan tenang dan hati-hati. Di tangan-tangan mereka tampak senjata-senjata yang siap digunkan kapanpun.

Lalu beberapa sosok berlari menghampiri pintu utama gudang.

Sebuah perintah diserukan, dan pintu gudang tersebut terbukalah.

Mereka telah siap dengan segala kemungkinan yang mungkin terjadi, tapi apa yang mereka temukan berada diluar batas imajinasi mereka yang terliar sekalipun.

Tergeletak di lantai, tak jauh dari pintu utama gudang, disinari cahaya bulan yang temaram, tampak setengah bagian dari kepala sang makhluk. Bagian-bagian tubuh yang lain, tercabik-cabik, tersebar di seluruh ruangan, sementara darah (cairan tubuh?) sang makhluk memenuhi dinding dan langit-langit.

Di luar gedung, suara sirine terdengar makin nyaring. Tetapi kesunyian telah jatuh di dalam hati.

Fajar akan segera tiba.

***

To Next …

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.