Deus ex Machina
CoDE: Chimera
Chapter: Deus ex Machina Seakan-akan berjalan di atas genangan air, tiap langkah kaki lelaki itu menimbulkan suara cipakan. Di dalam kegelapan itu jubah putih yang dikenakannya berpendar lembut. Tak lama kemudian ia berhenti di depan sebuah pintu di tengah ruangan itu. Sebuah pintu dengan tinggi dua kali lipat tinggi badannya, terbuat dari sejenis besi dengan ribuan simbol terukir di permukaannya.
Mengagumi pintu tersebut, lelaki dengan rambut sama putih dengan jubah yang dikenakannya mengulurkan langannya. Ia baru saja hendak mengetuk pintu itu ketika lengannya terhenti dan sebuah senyuman muncul di wajahnya. Lalu dengan acuh ia mendorong pintu itu.
Pintu itu terbuka. Kegelapan di sekeliling sang lelaki sirna dan kini ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan berlantai putih tanpa dinding dan langit-langit. Di tengah ruangan itu, dikelilingi oleh semacam lingkaran berdiameter kira-kira sepuluh meter, tampak sebuah singgasana. Duduk diatasnya, sesosok tubuh telanjang kurus tinggal tulang berbalut kulit, sangat mirip dengan sosok mayat kuno yang diawetkan dengan sempurna. Lelaki berjubah putih itu kembali tersenyum.
Kemudian tiba-tiba saja percikan-percikan bunga api kecil timbul. Diikuti debu-debu kelabu yang seolah-olah muncul begitu saja dari lantai ruangan tersebut. Tak berapa lama kemudian debu-debu itu berkumpul, memadat dan kini berubah wujud menjadi empat sosok raksasa berzirah hitam hampir tiga kali lebih tinggi dari tubuh sang lelaki. Menyerupai manusia, tubuh raksasa-rakasasa itu sama sekali tidak proporsional. Sebilah pedang hitam raksasa tergenggam di salah satu lengan mereka yang lebih panjang dari ukuran kaki mereka.
Ketika proses transformasi itu selesai, keempat raksasa itu serentak memandang ke arah sang lelaki. Lalu tanpa dikomando raksasa yang terdekat mengayunkan pedangnya.
Terdengar suara berdebum saat pedang sang raksasa menyentuh lantai, tapi sang lelaki tidak lagi berada disana.
Di saat yang sama sebentuk tangan yang seakan terbuat dari cahaya muncul kemudian mencengkram kepala sang raksasa lalu dengan satu gerakan memecahkannya berkeping-keping. Sementara tubuh sang raksasa berzirah ambruk, sesosok raksasa, dua kali lebih besar dari para raksasa berzirah muncul. Memancarkan cahaya dari sekujur tubuhnya, hampir tidak mungkin melihat bagaimana sebenarnya sosok raksasa tersebut.
Tapi para raksasa berzirah tampaknya tidak benar-benar peduli dengan hal itu. satu persatu mereka berlari dengan pedang terayun menghampiri raksasa cahaya yang baru saja membunuh salah satu dari mereka. Tepat sebelum pedang raksasa-raksasa berzirah itu menyentuh sang raksasa cahaya, terdengar suara keras dan lantang.
“Cukup!”
Lalu tiba-tiba saja gerakan raksasa-raksasa berzirah itu terhenti, dan di saat yang sama tubuh mereka kembali berubah menjadi butiran-butiran pasir kelabu yang kemudian berjatuhan menyatu kembali dengan lantai ruangan tersebut.
“Lama tak bertemu Zen?”
Lelaki berjubah putih tadi tiba-tiba saja muncul di tempat raksasa cahaya berdiri sebelumnya. Lagi-lagi sebuah senyuman tampak di wajahnya.
“Para penguasa dunia mengirimku kemari karena sesuatu menerobos masuk ke bilik peristirahatan sang dewa…”
“Aku yang melakukannya.”
Lelaki berjubah putih tadi menjawab sambil lalu. Ia kemudian kembali berjalan menghampiri sosok di tengah ruangan, namun tepat di depan lingkaran ia berhenti. Melangkah dari balik singgasana, seorang anak kecil berambut kelabu.
“Apa yang kau inginkan, Zabeluchim?”
“Menemui dewa kalian… Aku tadi bermasuk mengetuk pintu, tapi kuputuskan untuk memberikan semacam kejutan kecil.”
Anak lelaki berambut kelabu tadi memandang sang lelaki dengan tatapan benci lalu pelan-pelan menggelengkan kepalanya.
“Tidakkah kau lihat ia sedang tidak bisa ditemui?”
“Begitukah?”
Wajah zen berubah beringas, saat lelaki berzirah putih itu mengulurkan tangannya.
“Hentikan! Kau takkan bisa menerobos kemari!”
Tapi sang lelaki hanya tertawa kecil sambil terus mengulurkan tangannya melewati garis lingkaran.
Sesaat kemudian percikan-percikan bunga api listrik bermunculan di seluruh ruangan, kali ini lebih dahsyat sehingga seluruh ruangan dipenuhi cahaya biru putih yang menyilaukan. Zen menutup kedua matanya.Dan ketika ia kembali membuka matanya, ia mendapati puluhan bilah logam menembus tubuh sang lelaki berjubah putih.
“Kadang kali kami masih tak percaya bahwa adalah sebuah kesalahan menciptakannya.”
Menahan rasa sakit yang amat sangat lelaki berjubah putih tadi kembali berbicara.
“Tapi kesalahan ini akan segera kami perbaiki. Sampaikan pada Adam, aku akan kembali lagi…”
Perlahan-lahan tubuh sang lelaki menghilang. Zen menatap sosok di singgasana dengan wajah muram lalu berbisik.
“Tenanglah Ayah… kami akan selalu melindungimu.”
***
Intermission …